Kewirausahaan Di Lingkup Budaya Indonesia
KEWIRAUSAHAAN DI LINGKUP BUDAYA
INDONESIA
Muhammad
Ravi
(160563201024)
PROGRAM
STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
MARITIM RAJA ALI HAJI
2017
ABSTRACT
Entrepreneurship is the science that studies about
the value, ability, and behavior of a person's nature facing the challenges of
life (effort). Entrepreneurship is a science that has the object of the ability
to create something new and different (Zimmer, and Scarborough (1998).
The era of economic globalization is a reality that
has to be a reality. Basically entrepreneurship is closely related to the
environment. For example the urban community environment is certainly different
from the rural community. However, the key to entrepreneurship is how we control
risk by various calculations and thoughts. Indonesia currently inherits
thousands of cultures that grow in the community and this is a tremendous asset
for Indonesia. culture teaches how a nation learns to do business and behave.
In culture there is loyalty, responsibility, ethics, and a very close mental
attitude in giving birth to a creative and innovative society.
Keywords:
Entrepreneurship, behavior, environment, and globalization
ABSTRAK
Kewirausahaan adalah ilmu yang mempelajari tentang nilai,
kemampuan, dan perilaku seseorang alam menghadapi tantangan hidup (usaha).
Kewirausahaan merupakan ilmu yang memiliki obyek kemampuan menciptakan sesuatu
yang baru dan berbeda (Zimmer, and Scarborough (1998).
Era globalisasi ekonomi adalah
realitas baru yang mau tidak mau harus dihadapi masyarakat oleh karena itu
seluruh pelaku ekonomi dan seluruh lapisan masyarakat harus dipersiapkan diri
dengan sebaiknya-baiknya menghadapi realitas tersebut. Pada dasarnya
kewirausahaan sangat erat terkait pada lingkungan. Misalnya lingkungan
masyarakat perkotaan tentu saja berbeda dengan lingkungan masyarakat pedesaan.
Namun, kunci dari kewirausahaan adalah bagaimana kita mengendalikan resiko
dengan berbagai perhitungan dan pemikiran. Indonesia saat ini mewarisi ribuan kebudayaan yang
tumbuh di masyarakat dan hal ini merupakan asset yang luar biasa bagi
Indonesia. kebudayaan mengajarkan bagaimana sebuah bangsa belajar berbisnis dan
berperilaku. Dalam kebudayaan ada kesetiaan, tanggungjawab, etika, dan sikap
mental yang sangat erat dalam melahirkan masyarakat yang kreatif dan inovatif.
Kata kunci :
Kewirausahaan, perilaku, lingkungan, dan globalisasi
PENDAHULUAN
Secara umum budaya masyarakat
Indonesia masih mengagungkan profesi yang relatif “tanpa resiko” (misalnya
menjadi pegawai negeri, ABRI atau bekerja di perusahaan besar). Pernyataan ini
baru sebatas fenomena dan hipotesis yang harus dibuktikan kebenaran dan
keabsahannya. Namun dengan kondisi persaingan usaha di era globalisasi ini,
profesi yang relatif tanpa resiko sangat banyak pesaingnya dan akan sulit
bersaing terutama dengan tenaga asing. Salah satu alternatif yang dapat
ditempuh adalah dengan mengandalkan kekuatan sendiri atau menjadi wirausaha.
Yang harus mendapat perhatian adalah kondisi yang dinamis saat ini, menuntut
wirausaha haruslah benar-benar memiliki kemampuan yang tinggi, karena itu
terutama untuk lulusan pendidikan tinggi harus dibekali dengan ilmu dan intelektual
yang tinggi, serta kecakapan hidup yang memadai.
Pemerintah menyadari betul bahwa dunia usaha
merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga harus digenjot
sedemikian rupa melalui berbagai departemen teknis maupun institusi-institusi
lain yang ada di masyarakat. Melalui gerakan ini pada saatnya budaya
kewirausahaan diharapkan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa
Indonesia, sehingga dapat melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang
handal, tangguh dan mandiri.
Pemerintah juga telah menyusun suatu program yang
ditujukan untuk menanamkan budaya wirausaha dengan sasaran para mahasiswa
melalui berbagai program DIKTI dan pada masyarakat pada umumnya. Hal ini
dilaksanakan sebagai upaya untuk mempersiapkan masyarakat terutama lulusan
perguruan tinggi agar memperoleh ilmu dan intelektual yang tinggi, serta
kecakapan hidup (life skills) yang memadai
Dunia pendidikan tinggi sudah seharusnya peka
terhadap tantangan dan peluang, bahkan harus mampu berperan aktif dalam
menjawab permasalahan diatas. Terutama dalam menyiapkan sumberdaya manusia
terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik lokal,
regional, nasional maupun internasional. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai
teori-teori, tetapi juga mau dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial,
serta sanggup memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan
sehari-hari. Pendidikan yang demikian ditujukan pada pembentukan jiwa
entrepreneurship. Artinya pendidikan yang mempunyai jiwa keberanian dan kemauan
menghadapi problem kehidupan secara wajar, kreatif untuk mencari solusi dan
mengatasi problem tersebut, mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Salah satu jiwa entrepreneurship yang perlu
dikembangkan melalui pendidikan adalah kecakapan hidup (life skill). Pendidikan
yang berwawasan kewirausahaan, adalah pendidikan yang menerapkan
prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill)
pada peserta didiknya melalui kurikulum yang terintegrasi dengan dunia nyata.
STUDI
LITERATURE
Pengertian
Kewirausahaan
Kewirausahaan (entrepreneurship)
sampai saat ini belum memiliki definisi yang disepakati bersama diantara
para ahli. Ada perbedaan antara definisi satu ahli dengan ahli lain, walau ada
benang merah diantara definisi-definisi tersebut.
John
J. Kao (1993) mendefinisikan entrepreneurship
sebagai berikut: “Entrepreneurship is
the attempt to create value through recognition of business opportunity, the
management of risk-taking appropriate to the mobilize human, financial, and
material resourcs necessary to bring a project to fruition”. Dengan kata
lain, kewirausahaan adalah usaha untuk menciptakan nilai melalui pengenalan
kesempatan bisnis, manajemen pengambilan risiko yang tepat dan melalui
keterampilan komunikasi dan manajemen untuk memobilisasi manusia, uang, dan
bahan-bahan baku atau sumber daya lain yang diperlukan untuk menghasilkan
proyek supaya terlaksana dengan baik.
Pengertian
entrepreneurship menurut Robert D.
Hisrich et al. (2005) adalah sebagai
berikut: “Entrepreneurship is the dynamic
process of creating incremental wealth. The wealth is created by individuals
who assume the major risks in terms of equity, time, and or carrier commitment
of provide value for some product service. The product or service may or may
not be new or unique, but value must somehow be infused by the entrepreneur by
receiving and locating the necessary skills and resources”. Dengan kata
lain, kewirausahaan adalah suatu proses dinamis atas penciptaan tambahan
kekayaan. Kekayaan diciptakan oleh individu yang berani mengambil risiko utama
dengan syarat-syarat yang wajar, waktu, dan atau komitmen karier atau
penyediaan nilai untuk berbagai barang dan jasa. Produk dan jasa tersebut tidak
atau mungkin baru atau unik, tetapi nilai tersebut bagaimanapun juga harus
dipompa oleh usahawan dengan penerimaan dan penempatan kebutuhan keterampilan
dan sumber-sumber daya.
Menurut
Intruksi Presiden RI No. 4 Tahun 1995: “Kewirausahaan adalah semangat, sikap,
perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang
mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan
produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan
yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar”.
Istilah
wirausaha sebagai padanan entrepreneurship
dapat dipahami dengan mengurai istilah tersebut menjadi sebagai berikut:
Wira = utama,
gagah,,luhur, berani, teladan, dan pejuang. Usaha
= penciptaan kegiatan, dan atau berbagai aktivitas bisnis. Identik dengan
wiraswasta yang berarti : Wira = utama,
gagah, luhur, berani, teladan, dan pejuang. Swa
= sendiri. Sta = berdiri. Swasta = berdiri diatas kaki sendiri,
atau dengan kata lain berdiri diatas kemauan dan atau kemampuan sendiri.
Dapat
disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah hal-hal atau upaya-upaya yang berkaitan
dengan penciptaan kegiatan atau usaha atau aktivitas bisnis atas dasar kemauan
sendiri dan atau mendirikan usaha atau bisnis dengan kemauan dan atau kemampuan
sendiri. Wirausaha atau wiraswasta adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat
kewiraswastaan atau kewirausahaan dan umumnya memiliki keberanian dalam
mengambil risiko terutama dalam menangani usaha atau perusahaannya dengan
berpijak pada kemampuan dan atau kemauan sendiri. Jadi sebenarnya siapakah
wirausaha itu?
1.
Orang yang memulai dan atau
menoperasikan sebuah usaha atau bisnis.
2.
Para individu yang menemukan kebutuhan
pasar dan membangun perusahaan baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar.
3.
Orang-orang yang berani mengambil risiko
(risk takers) yang mampu memberikan
daya dorong bagi perubahaan, inovasi, dan kemajuan.
4.
Semua active owner-managers (founders and or managers of businesses).
Mindset Kewirausahaan
Setiap orang berpeluang menjadi
seorang wirausaha, namun jika dilakukan, kesuksesan yang akan diraih tidak akan
sama. Langkah awal yang dilakuna untuk menjadi seorang wirausaha ialah dengan
upaya merubah mindset (cara pandang) seperti halnya memandang
ketidakpastian masa depan dan risiko yang selalu melekat dengan dunia
wirausaha. Masalah minset kewirausahaan oleh McGrath & MacMillan (2000)
mengatakan dengan istilah entrepreneurial mindset adalah sangat penting
dalam membentuk seorang wirausaha. Ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh
dari merubah entrepreneurial mindset seseorang, antara lain:
1. Keberhasilan seorang wirausaha
karena action oriented dimana wirausaha berorientasi pada
tindakan dimana ide-ide yang muncul segera diterapkan walaupun dalam situasi
yang tidak menentu,
2. Konsep ini mampu menumbuhkan sikap
percaya diri,
3. Konsep ini dimaksudkan untuk tumbuh
bersama mulai dari yang sederhana seiring dengan petualangan seorang wirausaha.
Selanjutnya disebutkan juga bahwa karakteristik mindset yang dimiliki
oleh wirausaha pada umumnya, yaitu:
1. Sangat bersemangat dalam melihat/mencari peluang-peluang
baru,
2. Mengejar peluang dengan disiplin yang ketat,
3. Hanya mengejar peluang
yang sangat baik dan menghindari mengejar peluang lain yang melelahkan diri dan
organisasi mereka,
4. Fokus pada pelaksanaan khusus yang bersifat adaptif,
5. Mengikutsertakan energy setiap orang yang berada dalam
jangkauan mereka.
Sedangkan menurut Mulyanto (2012) konsep mindset wirausaha
antara lain:
1. Action oriented,
2. Berpikir simpel,
3. Selalu mencari peluang baru,
4. Mengejar peluang dengan disiplin tinggi,
5. Hanya mengambil peluang terbaik,
6. Fokus pada eksekusi,
7. Memfokuskan energi setiap orang dalam bisnis.
Selanjutnya disebutkan bahwa untuk menumbuhkan jiwa wirausaha
dapat melalui komitment diri sendiri, lingkungan pergaulan yang kondusif,
keadaan terpaksa, dan proses berkelanjutan.
Penelitian yang dilakukan Andriyanto
(2013) terhadap pola pikir wirausahan mahasiswa menemukan menyatakan bahwa pola
pikir kewirausahaan dan adversity quotient antara mahasiswa Psikologi Universitas
Negeri Malang yang berorientasi sebagai pencipta lapangan kerja dan pencari
kerjaadalah tidak memiliki perbedaan atau dapat dikatakan sama. Selanjutnya dikatakan
bahwa lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia, pada umumnya lebih memilih sebagai
pencari kerja daripada pencipta lapangan pekerjaan. Kewirausahaan merupakan
proses dalam menciptakan sesuatu yang berbeda dan bernilai. Pola pikir kewirausahaan
menggambarkan cara berpikir inovatif dan energik yang memanfaatkan peluang dan bertindak
untuk mewujudkan peluang tersebut.
Budaya Kewirausahaan
Dalam antropologi budaya yang berhubungan dengan
entrologi mempelajari tingkah laku manusia baik individu maupun kelompok dan
tidak hanya kegiatan yang bisa diamati dengan mata saja, t api juga yang ada dalam pikiran mereka. Tingkah laku
ini tergantung pada proses pembelajaran dengan mencontoh dari generasi di
atasnya dan juga dari lingkungan alam dan social yang ada di sekelilingnya dan
inilah yang disebut dengan kebudayaan atau budaya. Agar dapat dikatakan sebagai
kebudayaan, kebiasaan kebiasaan seseorang individu harus dimiliki bersama oleh
kelompok (Siregar, 2002). Sebagaimana yang dapat dilihat bahwa hampir setiap
orang memiliki potensi untuk menjadi seorang wirausahawan, sehingga keragaman
akan menjadi tanda kewirausahaan dan berbagai ragam orang yang membentuk
struktur kewirausahaan tersebut. Keragaman kewirausahaan tersebut seperti sekelompok
orang-orang muda mulai mengambil bagian dalam sebuah bisnis. Begitu juga hal
nya saat ini semakin banyak wanita menyadari bahwa cara terbaik untuk menembus
dominasi pria dalam bisnis. Dari segmen populasi bisnis kecil juga berkembang
dengan (Zimmerer & Scarborough, 2005:18-19). Keragaman cepat seperti
perusahaan yang dimiliki oleh kaum minoritas, wirausahawan imigran kewirausahaan
ini juga mencerminkan adanya budaya masing-masing wirausahawan.
Lupiyoadi (2007) menjelaskan bahwa
pada
dasarnya setiap orang dapat menjadi
usahawan jika ia mau dan tekun. Ini membuktikan tidak ada hambatan yang
sifatnya genetic (keturunan) bagi seseorang untuk menjadi wirausaha. Bahkan
McClelland (1966) mengatakan bahwa sifat wirausaha bukanlah terbentuk dari
keturunan, namun karena lingkungannya ia dapat menjadi seorang wirausaha. Penelitian
yang dilakukan oleh Gray (2002), menyatakan bahwa perilaku kewirausahaan mesti
belajar melalui pengalaman usaha. Dengan demikian, ketidakpastian membuat
wirausaha harus selalu memperhitungkan risiko untuk kegiatannya. Sedangkan
penelitian yang dilakukan oleh Gamage, et.al (2003) menunjukkan ada hubungan
yang kuat antara budaya dengan kewirausahaan. Hal senada juga
dikemukakan oleh Saffu (2003) dalam
penelitiannya yang juga menyebutkan adanya peran budaya dalam membentuk kewirausahaan
tersebut. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Widiyatnoto (2013) terhadap
minat berwirausaha siswa SMKN 1 dan SMKN 2 di Wonosari mendapati ada pengaruh
yang signifikan dari faktor budaya keluarga terhadap minat minat berwirausaha
siswa tersebut. Hal ini secara empirik menunjukkan bahwa budaya mempunyai peran
yang penting dalam pengembangan kewirausahaan. Penelitian yang dilakukan Rante
(2010) mengemukakan bahwa budaya etnis masih dipegang teguh oleh pengusaha dan
mewarnai perilaku pengusaha tersebut dalam menjalankan usaha. Budaya etnik, kerja
keras memiliki peranan yang penting dalam mendukung kinerja UMK agribisnis. Selanjutnya
perilaku kewirausahaan memiliki peran strategis sebagai mediasi budaya etnis
terhadap kinerja UKM agribisnis. Perilaku kewirausahaan telah mampu memberikan
dukungan yang berarti guna mentransformasi budaya menghasilkan kinerja. Sedangkan
perilaku kewirausahaan memiliki peran strategis sebagai mediasi budaya etnis
terhadap kinerja UKM agribisnis. Perilaku kewirausahaan telah mampu
memanfaatkan peluang-peluang yang diberikan pemerintah untuk mengembangkan
usaha yang dimiliki. Perilaku kewirausahaan hendaknya selalu ditingkatkan
kapasitasnya agar dapat menjadikan UKM agribisnis memiliki produktivitas yang
tinggi dan usaha yang handal.
PEMBAHASAN
Pengertian budaya kewirausahaan diperoleh dari
pengertian budaya dan kewirausahaan. Menurut Hodgetts budaya adalah ilmu
pengetahuan yang dikehendaki manusia untuk menginterprestasikan pengalaman dan
menggeneralisasikan perilaku social. Pengetahuan tersebut membentuk
nilai-nilai, sikap dan mempengaruhi perilaku, (1994:59). Sedangkan
kewirausahaan adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana para wirausahawan
memulai usaha, mengelola dan memajukan serta upayanya dalam mencapai
keberhasilan. Dengan demikian budaya kewirausahaan dapat dipahami sebagai nilai-nilai, sikap dan
perilaku yang mengarah pada upaya memulai usaha, mengelola memajukan dan
mencapai keberhasilan usaha.
Penelitian tentang “Factor Contributing To Growth Of
Small Manufacturing Firms:Data From Australia” merupakan salah satu kajian yang
mendukung tulisan ini, utamanya tentang usaha kecil dan menengah dari berbagai
negara. Ternyata di negara tetangga Australia sektor bisnis kecil juga
merupakan kontributor bagi kinerja perekonomian secara keseluruhan, 97 % bisnis
sektor swasta. Faktor keberhasilan dan kegagalan bisnis kecil pada berbagai
negara berbeda tergantung pada letak geografis maupun warna budaya setiap
negara. Aspek yang menentukan keberhasilan bisnis kecil pada berbagai negara
menunjukkan bahwa setiap negara berbeda aspek dan budayanya sehingga
kemanfaatannya bagi perencana ekonomi nasional (setiap negara) dan
kewirausahaan individual juga bervariasi. Penelitian tersebut membahas bahwa
variabel yang menentukan pertumbuhan bisnis kecil adalah kekhususan perusahaan
dan industrinya. Penelitian pada 144 perusahaan ritel dan wholesale oleh
Ibrahim dan Goodwin (1986) di wilayah metropolitan Canada dan Amerika
menunjukkan bahwa atribut personality manajer pemilik berpengaruh terhadap
keberhasilan usaha kecil dan menengah. Demikian juga penelitian pada 54
wirausahawan Jamaica yang bergerak pada bidang manufakturing dan jasajasa
menunjukkan hal yang mirip, bahwa personality manajer berpengaruh terhadap
keberhasilan usahanya. Selain itu kompentensi manajemen para pemilik yang
bervariasi juga mempengaruhi keberhaslan usahanya. Hasil survey oleh Davidson
(1991) terhadap 432 perusahaan kecil manufaktur di Swedia menunjukkan bahwa
pengalaman kewirausahaan dan manajerial para manajer pemilik serta letak
geografis dan keanggotaannya dalam kelompok-kelompok khusus (seperti himpunan
manajer di Indonesia) secara positif menyumbangkan kontribusi pada pertumbuhan
usaha kecil dan menengah. Seperti penelitian yang dilakukan Tan dan Tay (1994)
terhadap 161 perusahaan kecil manufaktur dankomersial di Singapura, menunjukkan
bahwa dukungan financial pemerintah, pengalaman terdahulu wirausahawan,
kualitas produk dan jasa, pelayanan terhadap konsumen secara signifikan menjadi
faktor penentu keberhasilan bisnis kecil. Pada kedua penelitian tersebut
menunjukkan bahwa usia perusahaan secara negative berhubungan dengan
pertumbuhannya. Penemuannya menunjukkan bahwa perusahaan yang sudah lama
(baca:berusia tua sudah sudah lama beroperasi) mengalami pertumbuhan yang tidak
secepat perusahaan yang masih
baru (baca: berusia muda atau belum lama beroperasi).
Penelitian lain yang dilakukan di Kobe, Jepang
(dalam Wijewardena dan cooray, 1995) terhadap 55 perusahaan kecil manufaktur
mengungkapkan bahwa perusahaan dengan tenaga kerja terampil dapat mencapai
kinerja lebih baik, dimana kinerja diukur dengan pertumbuhan penjualan. Bahkan
pertumbuhan penjualan pada usaha kecil tersebut sangat melambung tinggi.
Penelitian lain oleh Yusuf (1995) di Negara-negara pulau selatan Pasifik
terhadap 220 perusahaan kecil yang beroperasi berbagai jenis bisnis menunjukkan
bahwa manajemen yang baik, akses keuangan, kualitas pribadi wirausahawan dan
kepuasan terhadap dukungan pemerintah merupakan faktor keberhasilan usahanya.
Kajian terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha kecil dan
menengah dapat menjadi pelajaran penting bagi upaya perguruan tinggi dalam
membentuk model kemitraan dengan berbagai usaha kecil dan menengah (UKM) di
Indonesia. Secara khusus dalam membangun budaya kewirausahaan mahasiswa,
perguruan tinggi perlu menerjunkan langsung mahasisnya dalam kegiatan
operasional usaha kecil dan menengah. Perguruan tinggi penting membuat program
magang mahasiswa ke berbagai UKM secara periodik atau terintegrasi dengan
kuliah kerja nyata yang wajib diikuti seluruh mahasiswa. Aspek penting adalah
membentuk sikap dan perilaku mahasiswa melalui praktek magang kewirausahaan
pada UKM. Pelajaran penting yang diperoleh antara lain adalah bahwa untuk
mencapai keberhasilan usaha kecil dan menengah ternyata para manajer pemilik
dan tenaga kerjanya sebagai sumberdaya manusia harus memiliki ketrampilan dan
keahlian. Agar usaha kecil dan menengah mampu bersaing di arena globalpun
ternyata para manajer pemilik harus mempunyai keunggulan manajeria yang
professional dan handal. Seperti yang diungkapkan oleh Porter dalam Hodgetts,
bahwa perusahaan yang dapat melakukan bisnis internasional sangat ditentukan
oleh empat factor penentu yang digambarkan sebagai Porter Diamond.
Keempat faktor penentu tersebut adalah:
1) Faktor Conditions yang meliputi kepemilikan tanah
tempat usaha, tenaga kerja dan modal usaha.
2) Demand Conditions yang meliputi kekuatan
permintaan lokal akan barang dan jasa serta selera para konsumen.
3) Relating and supporting industries. Kehadiran
industry lain yang mendukung dan memiliki keterkaitan baik sebagai penyedia
bahan baku maupun distribusi barang dan jasa yang dihasikan.
4) Firm’s strategy, culture and rivalry. Strategi
dan budaya perusahaan serta para pesaing harus diperhatikan supaya dapat
menjadi keunggulan bagi usahanya di wilayah yang berbeda.
Sedangkan Rugman Verbeke menyatakan bahwa keunggulan
bersaing perusahaan di arena internasional karena adanya Firm’s Specific
Advantage (keunggulan khusus perusahaan) dan Country Spesific Advantage
(keunggulan khusus Negara). Keunggulan khusus perusahaan dapat berupa kepakaran
teknologi, tenaga penjualan yang handal, proses produksi yang efisien, saluran
distribusi ekslusif dan kesetiaan pelanggan. Keunggulan khusus Negara dapat
kategorikan sebagai variabel ekonomi dan non ekonomi. Variabel ekonomi ekonomi
meliputi tenaga kerja manusia yang berlimpah dan murah, ketersediaan modal,
sumberdaya alam yang berlimpah. Variabel non ekonomi meliputi norma-norma dan
kepercayaan yang dianut masyarakat, kemauan bekerja keras dan dukungan
pemerintah.
Membangun budaya kewirausahaan perguruan tinggi
identik dengan membuat perencanaan program kerja secara integratif dengan
melibatkan berbagai pihak dari internal perguruan tinggi dan para stakeholder (
Alumni, para pengusaha atau wirausahawan dan pemerintah) sebagai pihak
eksternal. Perencanaan program dilakukan bertahap sesuai dengan target setiap
perguruan tinggi, bisa satu, dua atau tiga tahun. Tujuan umum membangun budaya
kewirausahaan perguruan tinggi adalah membentuk jiwa atau mental, sikap dan
perilaku mahasiswa dalam berwirausaha baik selama menjadi mahasiswa maupun
setelah lulus dan memasuki dunia kerja. Namun demikian adanya kepentingan
dengan program kreativitas mahasiswa maka tujuan khusus membangun budaya
kewirausahaan perguruan tinggi adalah agar mahasiswa memiliki kemampuan praktek
bisnis secara riil. Untuk itu kegiatan dapat diperinci sebagai berikut:
1. Memetakan kegiatan wirausaha yang dilakukan
mahasiswa menurut jenis usaha, skala usaha, asal daerah dan sebagainya.
Informasi ini akan menjadi database wirausaha mahasiswa.
2. Memetakan kegiatan usaha mandiri alumni. Kegiatan
usaha mandiri alumni dapat dijadikan informasi untuk membangun jejaring bisnis
bagi mahasiswa yang akan memulai membangun usaha (memotivasi jiwa
kewirausahaannya).
3. Memetakan usaha kecil dan menengah (lingkar
kampus) yang bersedia menjadi mitra kerja untuk membangun kemitraan. Upaya ini
bermanfaat untuk memproleh informasi tempat magang mahasiswa guna
mengaplikasikan kewirausahaannya.
4.
Melakukan Focus Group Discussion untuk memetakan permasalahan yang dihadapi
usaha kecil dan menengah sebagai mitra. Kegiatan ini bermanfaat sebagai ajang
komunikasi antara pihak perguruan tinggi (civitas akademika) dalam melakukan
verifikasi kepakaran keilmuannya dengan dunia bisnis cecara riil.
5.
Melakukan konsultasi bisnis bagi bisnis mahasiswa yang masih aktif, bisnis alumni,
dan bisnis yang dilakaukan wirausahawan UKM. Kegiatan ini bermanfaat bagi
pengembangan praktek bisnis mahasiswa dan penguatan jiwa kewirausahaan
mahasiswa.
Secara keseluruhan tahapan kegiatan guna membangun
kewirausahaan perguruan tinggi dapat digambarkan dalam alur pemikiran sebagai
gambar 1 berikut. Target luaran membangun budaya kewirausahaan adalah
terealisasinya inkubator bisnis pada setiap perguruan tinggi. Inkubator bisnis
merupakan wadah bagi kelompok-kelompok bisnis bahasiswa dan tempat praktek
mahsiswa sebagai mahasiswa wirausaha. Dalam incubator bisnis ini, para
mahasiswa wirausaha dapat melakukan komunikasi tentang bisnis yang mereka
jalankan. Oleh karena itu mereka dapat saling bertukan informasi tentang
permasalah yang dihadapi dan cara-cara pemecahannya sehingga mereka memiliki
sense of business yang semakin tinggi. Dengan demikian mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan mengelola bisnisnya sehingga dapat memberikan konsultasi
bisnis bagi usaha kecil dan menengah sebagai mitra perguruan tinggi. Selain itu
mahasiswa dapat memperoleh pengalaman menjalankan bisnis dari para pengusaha
usaha kecil dan menengah secara riil. Pengembangan budaya kewirausahaan dapat
mewujudkan adanya saling memberi dan menerima atau take and give antara
perguruan tinggi (civitas akademika) dan wirausahawan pada usaha kecil dan
menengah sebagai mitra.Dengan demikian mahasiswa akan memiliki nilai lebih
(added value) sebagai keunggulannya untuk meraih kesuksesan di kemudian hari.
Berbagai faktor keberhasilan usaha yang dijalankan berbagai usaha kecil dan
menengah menunjukkan bahwa factor manusia merupakan faktor penentu yang utama.
Untuk itu perguruan tinggi yang berhasil membangun budaya kewirausahaan dapat
membantu upaya pemerintah dalam menciptakan peluang kerja yang sangat
dibutuhkan bagi pembangunan perekonomian secara keseluruhan.
Interaksi Masyarakat, Kaum Intelektual dan
Pemerintah
Permasalahan tingginya tingkat pengangguran dalam
suatu Negara tidak hanya terjadi di Indonesia atau di Negara-negara sedang
berkembang saja, namun dinegara yang sudah maju pun juga mengalami hal yang
sama. Permasalahannya tidak hanya pada besarnya tingkat pengangguran tersebut,
namun dampak dari kemungkinan yang akan terjadi akibat pengangguran tersebut
seperti timbulnya masalah sosial yang dapat berimbas terhadap seluruh aspek
kehidupan. Tingginya tingkat pengangguran yang
terjadi saat ini harus segera dicarikan solusinya setidaknya solusi yang dapat
menekan laju pertumbuhannya. Memperluas penyediaan lapangan kerja merupakan hal
yang sangat mutlak untuk mengatasinya. Penyediaan lapangan kerja harus
diperluas lagi dengan memberdayakan seluruh lapisan masyarakat melalui kegiatan
usaha yang produktif, kreatif dan inovatif baik untuk usaha formal maupun
informal.
Adapun area yang dibicarakan tentang hal tersebut
tidak lain adalah area kewirausahaan. Tidak
dipungkiri lagi bahwa bidang ini sangat memberikan
kontribusi yang cukup besar dalam menampung dari sejumlah tenaga kerja yang
ada. Untuk saat ini pemerintah harus banting setir dalam menentukan arah
program perluasan lapangan kerja tersebut. Pemerintah harus memberi kesempatan
yang seluas-luasnya kepada masyarakat luas untuk mulai melakukan berbagai
kegiatan kewirausahaan. Sesungguhnya pengembangan kewirausahaan ini tidak hanya
tanggung jawab pemerintah semata, namun diperlukan sinergi antara masyarakat,
kaum intelektual dan pihak pemerintah. Pihak pemerintah dalam hal ini adalah
sebagai aktor utama dalam gerakan ini dengan melibatkan dari kaum intelektual
yang diharapkan dapat memberikan ide/gagasan. Sedangkan objeknya tidak lain
adalah masyarakat dengan aktifitas usaha (business). Aktifitas bisnis
yang dilakukan masyarakat tentunya akan berdampak terhadap perekonomia secara
keseluruhan, membuka masyarakat dan pada akhirnya menambah pendapatan Negara
yang nantinya akan disalurkan melalui program pembangunan secara umum. Sehingga
interaksi dari ketiganya akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis
mutualisme).
Pengembangan program kewirausahaan ini harus
dilakukan secara terintegrasi (terpadu) secaraberkelanjutan dan bukan hanya
secara parsial saja. Hal ini dilakukan
mulai dari tingkat struktur yang terendah seperti melibatkan RT/RW, kelurahan
dan seterusnya. Di tingkat RT/RW misalnya membuat pusat kerajinan masyarakat
dengan mengangkat tradisi masyarakat tempatan yang dapat dijadikan sebagai
sebuah kegiatan bisnis, sepert halnya yang dilakukan masyarakat di Pekalongan,
Jogjakarta dan sekitarnya yang dikenal dengan usaha batik tangan buatan mereka
Yang tidak kalah penting ialah adanya campur tangan pemerintah dalam bentuk
kebijakan dalam
kemudahan memperoleh modal usaha dari lembaga
pembiayaan. Dan ini pulalah yang menjadi salah satu permasalahan dalam
pengembangan ekonomi kreatif masyarakat. Melihat hasil kajian Lemhanas
(2012) dijelaskan bahwa masih lemahnya
dukungan lembaga pembiayaan konvensional dan masih sulitnya akses bagi
entrepreneur kreatif untuk mendapatkan sumber dana alternatif, seperti modal
ventura atau dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Membudayakan kewirausahaan Melalui Lingkungan
Keluarga
Kita bisa melihat sisi lain dari warga minoritas,
ketika mereka melanjutkan pendidikan sampai ke tingkat yang lebih tinggi, namun
ketika telah menyelesaikan pendidikannya, justeru mereka lebih memilih dan
memulai dengan melakukan berbagai usaha sendiri seperti membuka counter handphone,
komputer, barang elektronik dan bentuk-bentuk usaha perniagaan lainnya. Umumnya
usaha mereka selalu mendapat dukungan dari pihak keluarganya sendiri, karena
itulah yang menjadi budaya mereka secara turun temurun. Budaya kewirausahaan
perlu diperkenalkan
ketengah masyarakat sedini mungkin dimulai dari lingkungan
mereka yang terdekat, yaitu keluarga. Keluarga sangat memberikan pengaruh yang
kuat terhadap minat seseorang untuk menggeluti dunia usaha. Yang perlu
dilakukan terlebih dahulu ialah merubah minset mereka yang menganggap usaha
bidang kewirausahaan tersebut bukan merupakan suatu profesi. Namun ketika sudah
sukses menjalani usaha tersebut baru diakui sebagai profesi pengusaha Mental
pekerja makan gaji inilah yang masih melekat di kalangan masyarakat saat ini.
Kita bisa melihat di era orde baru, dimana pada saat itu sangat terasa “gap”
antara pihak pemerintah dengan pihak swasta. Dari pihak pemerintah yang dapat
diidentikkan dengan status pegawai negeri, sedangkan yang bukan berstatus
pegawai negeri dianggap dari kalangan swasta. Ironisnya dari kalanganswasta ini
didomipekerjaan tetap. Sehingga bagi masyarakat yang ingin terjun menggeluti
dunia usaha harus siap menerima status pekerja sebagai swasta (wiraswasta).nasi
oleh kalangan masyarakat kelas bawah
termasuk masyarakat yang tidak memiliki Perubahan istilah wiraswasta menjadi
wirausaha yang terjadi saat ini juga member kesan yang beraarti, dimana status
seseorang sudah dilihat dari keahlian profesinya seperti sebagai disainer,
interior ruangan, event organizer, dan sebagainya. Walaupun hal ini dipandang
sederhana namun dampaknya terhadap masyarakat sangat besar terutama tentang
image sebagai seorang wirausaha.
Upaya ini tidak dapat dilakukan secara instan, namun
harus melalui proses yang diawali dengan proses pengenalan kegiatan
kewirausahaan, memberikan pelatihan-pelatihan kewirausahaan, melakukan
event-event kewirausaahan (seperti workshop, pameran kerajinan dan
industry rumah tangga). Yang tak kalah pentingnya ialah membangun berbagai
fasilitas kewirausahaan oleh pemerintah seperti pusat-pusat perkulakan,
kerajinan rakyat dan sebagainya. Aktivitas pembudayaan kewirausahaan ini harus
dilakukan secara bertahap. Program-program yang dirancang harus lebih menarik
seperti kompetisikompetisi bahkan penyaluran bantuan baik secara materi maupun
non materi yang dapat memicu minat berwirausaha. Namun program semacam itu
tidak menjamin untuk jangka panjang jika tidak dilakukan secara berkelanjutan.
Usaha Rumahan
Usaha yang dilakukan oleh masyarakat seperti bisnis
rumahan ini justeru lebih cepat berkembang. Bahkan disebutkan 53% dari seluruh
bisnis dijalankan di rumah, tetapi sekitar 80% diantaranya sangatlah kecil dan
tanpa karyawan. Faktor yang menyebabkan banyaknya wirausahawan memilih rumah
sebagai lokasi pilihan pertama adalah: 1) menjalankan bisnis
dari rumah meminimalkan biaya awal dan operasi, 2)
perusahaan bisnis dari rumah memungkinkan pemiliknya dapat mempertahankan gaya
hidup dan gaya kerja fleksibel. Banyak wirausahawan bisnis di rumah menikmaati
menjadi bagian dari angkatan kerja berkerah-terbuka, 3) teknologi, yang
mengubah banyak rumah-rumah biasanya menjadi “vila elektronik” memungkinkan
wirausahawan dapat menjalankan berbagai macam bisnis di rumah mereka. (Zimmerer
& Scarborough, 2005) Masyarakat harus terdorong untuk dapat membuka usaha-usaha
baru baik dengan merintis sendiri, dengan keluarga, atau bekerjasama antara
satu dengan yang lainnya dalam bentuk usaha yang kecil maupun yang besar. Pihak
lembaga pembiayaan juga harus memberi kesempatan dengan sedikit memberi
kemudahan memperoleh pinjaman baik untuk modal kerja maupun modal untuk
investasi baru.
PENUTUP
Kesimpulan
Saat ini, bidang kewirausahaan masih belum menjadi
pilihan utama sebagai profesi di masyarakat Indonesia, sehingga masih belum
berkembang dibandingkan dengan negara maju. Budaya kewirausahaan harus
ditumbuhkembangkan ditengah masyarakat sedini mungkin dimulai dari lingkungan keluarga
dan lingkungan terdekat hingga ke lembaga pendidikan formal mulai dari
pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. Aktifitas kewirausahaan harus diaktifkan
di lingkkungan masyarakat sehingga dapat diamati secara langsung. Aktifitas ini
akan menjadi dari masyarakat sehingga menjadi proses pembelajaran yang akan
membentuk kebiasaan/budaya. Agar dapat dijadikan sebagai budaya kewirausahaan,
maka kebiasaan ini harus dimiliki secara bersama dengan cara melibatkan seluruh
komponen yang ada dalam masyarakat Pihak pemerintah selaku aktor utama dalam gerakan
ini dapat melibatkan pihak intelektual sebagai penggagas berbagai ide/gagasan
baik dalam pengembangan program kewirausahaan itu sendiri maupun dalam
pengembangan teknologi dan informasi yang sangat bermanfaat dalam dunia usaha
yang digeluti oleh masyarakat pelaku usaha (wirausaha) tersebut.
Masyarakat lebih didorong untuk melakukan atau
memulai usaha baik dari usaha dalam skala kecil maupun besar. Sikap berani
mengambil risiko harus ditanamkan agar berbagai rencana bisnis tersebut direalisasikan.
Memulai usaha dengan usaha rumahan juga merupakan ide yang cerdas, karena
memiliki keuntungan tersendiri terutama dalam meminimalkan biaya awal dan
operasi.
Rekomendasi
Sebagai
sebuah negara yang memiliki begitu banyak kebudayaan yang telah mengakar dan
menjadi sebuah kebiasaan masyarakat Indonesia perlulah sebuah pola pikir atau
kesadaran dari segala aspek yang berhubungan untuk memperbaiki kondisi bangsa
khususnya sektor ekonomi. Masyarakat seharusnya mampu berfikir kritis dan
kreatif dalam upaya ikut serta membantu negara dalam mencapai tujuan negara,
dengan mengubah pola pikir masyarakat itu dari yang hanya ingin mencari sebuah
pekerjaan dan mengamankan diri sendiri menjadi berani berfikir dan berani
bersikap untuk melakukan atau memulai sebuah usaha yang cerdas dan inovatif.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber dari buku
Daryanto,
2012,Menggeluti Dunia Usaha,Penerbit Gava
Media
Sumber dari
jurnal
Hadiyati, Ernani, Kreativitas dan Inovasi Berpengaruh Terhadap
Kewirausahaan Usaha Kecil, Universitas
Gajayana Malang
Hadiyati,Ernani, Kajian Pendekatan Pemasaran Kewirausahaan dan Kinerja Penjualan Usaha
Kecil, Universitas Gajayana Malang
Jonnius, Menumbuhkembangkan
Budaya Kewirausahaan Dalam Masyarakat, Badan Arsip dan Dokumentasi Ilmiah
UIN Suska Riau
Retno Budi Lestari, Trisnadi Wijaya, Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan Terhadap
Minat Berwirausaha Mahasiswa, Forum Bisnis Dan Kewirausahaan Jurnal Ilmiah STIE
MDP
Uci Yuliati, Dwi Eko Waluyo, Membangun Budaya Kewirausahaan Melalui
Kemitraan Usaha Kecil Menengah,Badan Arsip dan Dokumentasi Ilmiah UMM
Komentar